Pembentukan Desa Adat di Aceh Tenggara Merupakan Salah Satu Langkah Maju

- Redaksi

Minggu, 8 September 2024 - 05:37 WIB

50160 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

*Strategis dalam pelestarian budaya bangsa dan daya tarik wisata yang sangat dahsyat, sekaligus menjaga stabilitas pertahanan keamanan nasional (hankamnas).
*Desa adat di Aceh Tenggara, dapat dilakukan dengan membangun desa adat Alas, desa Adat Batak, desa Adat Gayo, dan desa Adat Singkil, dll.

Aceh Tenggara- (Indonesia Post) Adapun landasan aturan hukum desa adat, ialah UU no.6 tahun 2014 tentang desa,
pada BAB XIII Ketentuan Khusus Desa Adat.
Disebutkan dalam Pasal 100 ayat (1) berbunyi, “Status Desa dapat diubah menjadi Desa Adat, kelurahan dapat diubah menjadi Desa Adat, Desa Adat dapat diubah menjadi Desa, dan Desa Adat
dapat diubah menjadi kelurahan, berdasarkan prakarsa masyarakat yang bersangkutan melalui Musyawarah Desa, dan disetujui oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.”

Dalam ayat (2) disebutkan, hal Desa diubah menjadi Desa Adat, kekayaan Desa beralih status menjadi kekayaan Desa Adat, dalam hal kelurahan berubah menjadi Desa Adat, kekayaan kelurahan beralih status
menjadi kekayaan Desa Adat, dalam hal Desa Adat berubah menjadi Desa, kekayaan Desa Adat beralih status menjadi kekayaan Desa, dan dalam hal Desa Adat berubah menjadi kelurahan, kekayaan Desa Adat beralih status menjadi kekayaan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lewat amanat undang-undang ini, maka desa (kute, gampong, nagori) dapat diubah menjadi desa adat, melalui prakarsa masyarakat adat dengan persetujuan pemerintah kabupaten/kota, dimana sistem pemerintahannya diatur oleh adat istiadat yang berlaku secara tradisional, hingga sistem pemilihan kepala desa (pengulu kute, Keuchiek).

Dengan adanya pembentukan desa adat ini, yang tentu melalui regulasi sesuai daerah masing-masing, maka akan berpotensi besar untuk menarik wisata, baik sebagai pusat penelitian bagi mahasiswa yang berhubungan linier terhadap adat, budaya, dan peradaban masa lalu; sebagai pusat penelitian para aktivis budaya daerah, baik dari domestik maupun manca negara.

Pemikiran dan program ini sangat baik kepada orang-orang yang tinggal di perantauan, agar bisa mengetahui kemana belajar untuk adat dan budaya asli dari sukunya.
Dengan demikian, akan meningkatkan wisata Indonesia secara drastis, dimana setiap kabupaten kota memiliki hak yang sama terhadap pembentukan desa adat itu sendiri, yang disesuaikan dengan suku dan asal-usul dari kabupaten yang bersangkutan.

Oleh karena itu, Pemerintah pusat perlu mengeluarkan regulasi khusus, untuk landasan hukum bagi kabupaten dalam membuat Perda (Qanun), tentang pembentukan desa adat yang merupakan keharusan, bahwa satu kabupaten satu desa adat.

Secara khusus daerah Aceh, dan beberapa provinsi lain memungkinkan untuk bekerjasama (kolaborasi), dengan UU yang mengatur provinsinya, seperti di Aceh misalnya melalui UU no.11 tahun 2006, tentang Pemerintahan Aceh. Dengan demikian, pada saat menggali budaya tradisional adat istiadat, dapat kiranya mengeluarkan tradisi yang bertentangan dengan syariat Islam.

Selanjutnya, ketika semua kabupaten memiliki desa adat sesuai asal usul tersebut, maka terbentuklah Asosiasi perangkat desa adat seluruh Indonesia, sebanyak jumlah kabupaten yang ada, tentu merupakan kekayaan tradisi, budaya yang memiliki harga jual tinggi secara nasional maupun internasional.

Demikian pernyataan, Rajab Situmorang, S.T., salah seorang yang peduli tentang adat (budaya), pembentukan desa adat di Aceh, khususnya di Aceh Tenggara, dan di Indonesia pada umumnya. Jika desa adat sudah terbentuk, maka pemilihan kepala desa (pengulu kute) dapat dilakukan secara adat, peradilan adat sesuai dengan Qanun Aceh no.9 Tahun 2008, dimana ada 18 perkara ringan yang bisa ditangani di desa. Sehingga pihak Bhabinkamtibmas dan Polsek, tidak terlalu disibukkan dan repot dalam hal penanganan tersebut. Demikian dilaporkan dari Aceh Tenggara.(P. Lubis/RS).

Berita Terkait

Akar Banjir Belum Tuntas Malah Sibuk Jual Batu, Warga Desa Kuning I Geram Pengerukan Jembatan Kuning I Lamban Karena Material Dibawa Jauh Keluar Lokasi
Diduga Kurang Pengawasan Proyek Peningkatan Ruas Jalan Muara Setulen – Gelombang Asal Jadi
Patroli Antisipasi Warga Menggunakan Knalpot Blong Dan Balap Liar di Wilkum Polsek Lawe Sigala-Gala
2 SPPG Yayasan Kemala Bhayangkari Ditinjau Kapolres Agara Untuk Pastikan Program Berjalan Optimal
Ibadah Syukur PGI-D Aceh Tenggara Dalam Rangka Peringatan HUT RI ke-81
Kegiatan Normalisasi Saluran Air Desa Lawe Desky kecamatan Babul Makmur
Kepsek SMA Negeri 1 Lawe Sigalagala Akan Melakukan Pembenahan Disiplin dan Peningkatan Mutu
Seorang Pengedar Narkotika Warga Lawe Loning Gabungan Ditangkap Polres Agara

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 17:04 WIB

Dapur Umum GRIB Jaya Medan Terus Berbagi, Hadirkan Makanan Bergizi Gratis bagi Masyarakat yang Membutuhkan

Rabu, 4 November 2026 - 11:24 WIB

​Kanwil Ditjenpas Sumut Siap Dukung Penuh Proses Penegakan Hukum Terkait Pegawai Lapas Medan yang Diamankan Polisi

Selasa, 3 November 2026 - 15:08 WIB

Evaluasi dan Penguatan Tugas dan Fungsi Pengamanan Rutan Tanjung Pura Ikuti Zoom Meeting bersama Direktur Pengamanan dan Intelijen Ditjenpas

Selasa, 3 November 2026 - 08:44 WIB

Bapas Kelas I Medan Lakukan Pengawasan Klien Pemasyarakatan dalam Program Ketahanan Pangan

Senin, 2 November 2026 - 21:07 WIB

IJTI Pengda Sumut Bakal Gelar Musda ke-VI, Tuti Alawiyah Lubis Maju Sebagai Calon Ketua Periode 2026/2029

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:59 WIB

Sinergi Cegah Banjir, Rutan Kabanjahe Bersama Kelurahan Kampung Dalam Gelar Kerja Bakti Pembersihan Drainase

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:32 WIB

Kunjungi Sentra Ketapang Rutan Tanjung Pura, Kakanwil Ditjenpas Sumut Puji Kemandirian Warga Binaan

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Lapas Sibolga Kebut Pembersihan Lingkungan dan Pembangunan Pagar SDN Hutanabolon 1 Pascabanjir

Berita Terbaru