slot77reseller smmKencang77 Heylinkhttps://www.zeverix.comsmm murahsmm indonesiaslot gacorslot onlineslot gacor hari inikencang77smm panel termurahsmm panel terbaikreseller smm panelsmm panel indonesiaKENCANG77kencang77kencang77 daftarkencang77 loginSlot gacorslot danaslot gacorslot deposit danaslot dana 5000kencang77slot gacorkencang77kencang77slot777slot777kencang77slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacor
slot77reseller smmKencang77 Heylinkhttps://www.zeverix.comsmm murahsmm indonesiaslot gacorslot onlineslot gacor hari inikencang77smm panel termurahsmm panel terbaikreseller smm panelsmm panel indonesiaKENCANG77kencang77kencang77 daftarkencang77 loginSlot gacorslot danaslot gacorslot deposit danaslot dana 5000kencang77slot gacorkencang77kencang77slot777slot777kencang77slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacor

Antara Program MBG, Realisasi Gratis Poll dan Efisiensi Anggaran

- Redaksi

Kamis, 6 Maret 2025 - 16:58 WIB

50150 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Mira Ummu Tegar (Aktivis Muslimah Balikpapan)

Ratusan mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Kaltim Menggugat mengelar aksi demontrasi di depan kantor DPRD Provinsi Kaltim, Jalan Teuku Umar, Sungai Kunjang, Senin (24/3) sore. Mereka menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah dengan alasan kebijakan tersebut tidak tepat sasaran dan bukan solusi utama bagi permasalahan mahasiswa saat ini.

Perwakilan mahasiswa secara bergantian menyampaikan pendapat mereka, salah satunya Rudi (22), menyatakan program tersebut hanya bersifat populis dan tidak menyentuh persoalan utama yang dihadapi mahasiswa. “Kami tidak menolak bantuan, tetapi yang kami butuhkan adalah pendidikan yang lebih terjangkau bukan sekedar makanan gratis. Banyak mahasiswa yang kesulitan membayar UKT (Uang Kuliah Tunggal) dan biaya hidup,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain menolak program MBG, mahasiswa juga menyoroti program pendidikan gratis “Gratis Poll” yang dicanangkan Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim terpilih, Rudy Mas’ud-Seno Aji. Mereka meragukan realisasi program tersebut mengingat pemerintah pusat telah menetapkan kebijakan efisiensi hingga pemangkasan anggaran di berbagai sektor. (prokal.co 26/2/2025).

Aksi demontrasi mahasiswa patut diapresiasi, apalagi melihat kondisi masyarakat yang dihimpit berbagai kesulitan, ketimpangan, ketidakadilan, bahkan diskriminasi. Hal ini bak oase di tengah gurun padang pasir, apa yang disuarakan mahasiswa merupakan perasaan yang sama yang dirasakan masyarakat pada umumnya.

Namun sayangnya aksi ini masih pada perkara teknis saja belum menyentuh akar persoalan, yakni persoalan sistem. Sistem kapitalisme sekuler yang menjadi kepemimpinan pemerintahan saat ini, merupakan biang dari semua persoalan yang dihadapi umat saat ini termasuk mahasiswa.

Sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari aturan kehidupan, dan memberikan ruang kekuasaan bagi manusia untuk membuat aturan untuk dirinya telah nyata menimbulkan banyak kerusakan dan kedzoliman pada kehidupan manusia. Disinilah letak kerusakan besar bagi manusia. Bagaimana mungkin manusia yang serba terbatas, dan dia adalah mahluk yang lemah dan tempatnya khilaf dan salah kemudian diberi kekuasaan dan kedaulatan membuat aturan/hukum, maka tentulah aturan yang dibuat akan cenderung kepadanya dan kelompoknya. Tengoklah saat ini bagaimana konstitusi dengan mudahnya direvisi sesuai kehendak para elit politik penguasa dan pengusaha yang sudah berkolaborasi sejak awal pemilu demokrasi. Maka tidak heran kemudian aturan/perundang-undangan yang lahir menguntungkan mereka sendiri, semisal UU minerba dan omnibus law.

Pengurusan dan pelayanan rakyat di sistem kapitalisme sekuler bukanlah fokus utamanya. Sistem ini menempatkan negara hanyalah regulator antara rakyat dan para kapitalis/oligarki. Dan mirisnya justru tak jarang negara menjadi fasilitator kapitalis/
oligarki dalam melancarkan bisnis mereka. Lahirlah politik simbiosis mutualisme diantara mereka, bahkan sering terjadi pula pada sistem ini pengusaha atau para kapitalis/oligarki juga merangkap menjadi penguasa atau pejabat negera.

Maka yang terjadi selanjutnya, rakyatlah yang akan menjadi korban sasaran objek bisnis dan kebijakan negera. Kalau pun ada regulasi yang pro rakyat itu hanya dipermukaan saja. Lihatlah bagaimana program MBG namun di sisi lain negara justru menetapkan kebijakan efisiensi anggaran yang dampaknya semakin menyulitkan rakyat, padahal progam MBG saja belum sepenuhnya dirasakan masyarakat tapi efisiensi anggaran sudah sangat terasa menyengsarakan.

Inilah yang terjadi saat ini dimana pergantian kepemimpinan justru semakin menampakkan sosok populis otorutarianism, seakan pahlawan tapi di sisi lain justru mendzolimi rakyatnya. Masihkah berharap dengan sistem yang sudah sangat jelas tak mampu memberi harapan bagi kesejahteraan dan keadilan ini?

Mari kita bandingkan dengan sistem Islam, dimana Rosulullah Saw sudah mencontohkan dan mempraktekkan kepemimpinan Islam di Madinah. Dalam Islam negara merupakan ra’in yakni pengurus, pelayan dan pelindung rakyatnya. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw, “Imam/Khalifah adalah raa’in (pengurus rakyat) dan Ia bertanggung jawab atas kepengurusan rakyatnya.”(HR. Bukhari).

Islam menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok bagi setiap individu rakyatnya. Dalam hal ini negara bertanggung jawab dalam pemenuhannya. Artinya kebutuhan asasi manusia yakni sandang, pangan, papan serta pendidikan, kesehatan, dan keamanan merupakan hak setiap warga untuk mendapatkannya bahkan secara gratis dan berkualitas.

Terkait pendidikan yang semakin mahal di era saat ini, sebagaimana yang disuarakan para mahasiswa pada aksi demontrasinya, merupakan keniscayaan di sistem kapitalisme liberal karena sistem ini melandaskan semua aktivitasnya pada nilai untung rugi, semua sektor kehidupan di sistem ini adalah objek kapitalisasi tak terkecuali sektor pendidikan.

Berbeda dengan Islam yang memandang pendidikan merupakan kebutuhan pokok komunal bagi setiap individu masyarakat, maka wajib bagi negara menyediakan dan menyelenggarakan secara cuma-cuma dan berkualitas. Dan pentingnya pendidikan dimata Islam tergambar jelas bagaimana Rosulullah Saw membebaskan tawanan pada saat perang Badar dengan syarat mengajarkan baca tulis kepada anak-anak kaum muslim.

Sementara berbicara terkait program MBG, dalam Islam bukanlah sesuatu yang asing, pada masa Rosulullah Saw, para sahabat sering berbagi makanan kepada yang membutuhkan secara gratis. Salah satu peristiwa yang paling terkenal terkait distribusi makanan gratis adalah “Suffah”, dimana Suffah merupakan sebuah tempat di masjid Nabawi yang dihuni oleh kaum muhajirin yang belum memiliki pekerjaan dan penghidupan di Madinah. Makanan yang disajikan pada masa itu terdiri dari bahan-bahan alami seperti roti, kurma, daging dan susu. Kombinasi makanan ini berdasarkan ilmu gizi modern, memberikan asupan gizi yang seimbang. Kurma misalnya kaya akan serat, vitamin, dan mineral, sementara daging menyediakan protein yang penting untuk pertumbuhan, dan susu merupakan sumber kalsium dan vitamin D yang penting untuk kesehatan tulang.

Bentuk perhatian terhadap kesejahteraan pangan ini diwujudkan dalam berbagai inisiatif, baik oleh individu maupun negara, dan di motivasi akan kesadaran keimanan yang kokoh. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa yang kenyang sedangkan tetangganya kelaparan, maka dia bukanlah golonganku.” (HR. Al-Hakim). Sementara negara sebagai ra’in betul-betul memastikan setiap individu rakyat terpenuhi kebutuhan pangannya, bukan hanya sekedar tersedia namun memastikan akan keseimbangan gizinya.

Sungguh di bulan suci Ramadhan ini, saatnya lah meneladani Rasulullah Saw bukan hanya dalam perkara spritual saja, namun meneladani kepemimpinan Rosulullah Saw dalam penerapan Islam secara kaffah di kehidupan bernegara. Wallahu a’lam bishowab.

Berita Terkait

Membelah Bukit, TMMD Hadirkan ‘Merah Putih’ di Gunung Cut
Kepercayaan Publik yang Retak: Ketika Pemerintah Desa, Media, dan Masyarakat Gagal Bersinergi
Jenderal Hoegeng Iman Santoso: Polisi yang Harga Dirinya Lebih Mahal dari Emas
Koruptor Adalah Satwa Liar Yang Paling Dilindungi di Indonesia? Ketika Uang Menjadi Tuhan, Rakyat Hanya di Jadiakn Korbannya, Akankah Nasib NKRI Bisa Bertahan 2045?
Wujudkan Ketahanan Pangan dengan Bendungan, Benarkah Cukup?
Ketika Polisi Merangsek ke Ranah Sipil, Kemana Mahasiswa dan Pejuang Demokrasi
LPG Langka, Bagaimana Peran Negara Dalam Menjamin Distribusi?
Kampus Lembaga Pendidikan ataukah Ladang Bisnis

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 01:08 WIB

Polsek Lima Puluh Lakukan Patroli Mobile di Perkebunan PT. SOCFINDO – Awasi Kegiatan Kelompok Tani Desa Simpang Gambus

Sabtu, 25 Juli 2026 - 23:41 WIB

Satlantas Polres Batu Bara Lakukan Patroli Blue Light di Jalinsum Exit Tol 50 – Kegiatan Aman Lancar

Sabtu, 25 Juli 2026 - 23:03 WIB

Satlantas Polres Batu Bara Lakukan Patroli di SPBU Jalinsum Desa Sukaraja – Kegiatan Aman Lancar

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:26 WIB

Satlantas Polres Batu Bara Lakukan Gatur Siang di Jalinsum Simpang Tanah Merah – Kegiatan Aman Lancar

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:24 WIB

Satlantas Polres Batu Bara lakukan patroli Blue Light di Jalinsum Indrapura – kegiatan aman lancar

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:44 WIB

Satlantas Polres Batu Bara berbagi sembako dalam Jumat Berkah – juga antisipasi kemacetan

Jumat, 24 Juli 2026 - 12:26 WIB

Sat Narkoba Polres Batu Bara bagikan sembako dan edukasi bahaya narkoba dalam Jumat Berkah

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:51 WIB

Penguatan Kerja Sama Polres dan Lapas Labuhan Ruku – Bahas Patroli Bersama dan Pertukaran Informasi

Berita Terbaru