slot77reseller smmKencang77 Heylinkhttps://www.zeverix.comsmm murahsmm indonesiaslot gacorslot onlineslot gacor hari inikencang77smm panel termurahsmm panel terbaikreseller smm panelsmm panel indonesiaKENCANG77kencang77kencang77 daftarkencang77 loginSlot gacorslot danaslot gacorslot deposit danaslot dana 5000kencang77slot gacorkencang77kencang77slot777slot777kencang77slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacor
slot77reseller smmKencang77 Heylinkhttps://www.zeverix.comsmm murahsmm indonesiaslot gacorslot onlineslot gacor hari inikencang77smm panel termurahsmm panel terbaikreseller smm panelsmm panel indonesiaKENCANG77kencang77kencang77 daftarkencang77 loginSlot gacorslot danaslot gacorslot deposit danaslot dana 5000kencang77slot gacorkencang77kencang77slot777slot777kencang77slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacor

Wujudkan Ketahanan Pangan dengan Bendungan, Benarkah Cukup?

- Redaksi

Jumat, 11 April 2025 - 23:36 WIB

50132 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Novi Noor (Pemerhati Masalah Umat)

Pembangunan Bendung Gerak Sungai Telake di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kembali menjadi sorotan publik. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) PPU, Raup Muin, menekankan pentingnya percepatan pembangunan bendungan ini. Menurutnya, keberadaan Bendungan Telake sangat strategis dalam mewujudkan kedaulatan pangan, khususnya untuk wilayah Kalimantan Timur, termasuk Kabupaten PPU dan Kabupaten Paser.

Lebih jauh, bendungan ini juga diharapkan mampu menopang kebutuhan pangan bagi Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, benarkah pembangunan bendungan saja cukup untuk mewujudkan ketahanan pangan?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tantangan dan Permasalahan Nyata di Lapangan

Faktanya, rencana pembangunan Bendungan Telake ini bukanlah hal baru. Perencanaannya telah digagas sejak lama, namun hingga kini masih menemui berbagai kendala. Mulai dari kondisi lingkungan di sekitar bendungan hingga persoalan pembiayaan yang sangat tinggi. Ini semakin diperparah dengan kondisi ekonomi negara yang tengah mengalami efisiensi anggaran di hampir semua sektor, termasuk sektor pertanian dan pangan.

Memang, pembangunan bendungan sebagai infrastruktur pengairan tentu sangat penting dalam mendukung produktivitas pertanian. Namun, langkah ini belum menyentuh akar persoalan mendasar dalam sektor pertanian kita. Persoalan ketahanan pangan bukan hanya perkara ketersediaan air. Ada banyak faktor penting lain yang seringkali diabaikan.

Misalnya, minimnya ketersediaan benih unggul untuk petani, sulitnya akses pupuk subsidi, keterbatasan sumber daya manusia di kalangan petani, hingga kebijakan pertanian yang kerap berjalan sendiri tanpa dukungan sistemik dari sektor lain. Ini menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan bendungan semata tidak cukup untuk menjawab kompleksitas persoalan ketahanan pangan.

Sistem Pertanian Sekuler, Hambatan Terbesar

Lebih jauh, selama sistem politik pertanian masih berjalan dalam bingkai sekulerisme  di mana pengaturan bidang pertanian hanya dipandang sebagai program teknis semata, terpisah dari sistem kehidupan yang lain maka wacana mewujudkan kedaulatan pangan akan sulit tercapai.

Sistem saat ini cenderung menempatkan negara hanya sebagai regulator, bukan pelayan sejati bagi kebutuhan rakyat. Orientasi pembangunan lebih banyak mengejar pertumbuhan ekonomi, namun abai terhadap kesejahteraan petani sebagai pelaku utama produksi pangan. Kebijakan pangan kerap tidak integratif, dan tidak dibangun di atas paradigma bahwa kesejahteraan rakyat dan ketahanan pangan adalah tanggung jawab negara yang akan dimintai pertanggungjawaban, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Solusi Islam dalam Pengelolaan Pangan dan Pertanian

Islam mengajarkan bahwa penguasa atau negara wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya, termasuk pangan, sandang, dan papan. Rasulullah SAW bersabda:

“Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu, pengelolaan sumber daya alam seperti air, tanah, dan energi adalah kepemilikan umum, yang tidak boleh dikuasai oleh individu atau korporasi demi keuntungan pribadi. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud)

Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa bumi ini dan segala isinya adalah milik Allah yang harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan seluruh manusia, bukan untuk segelintir orang saja:

“Dia-lah yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian…” (QS. Al-Baqarah: 29)

Karenanya, pembangunan Bendungan Telake memang patut diapresiasi sebagai salah satu langkah mendukung ketahanan pangan. Namun, perlu disadari bahwa kedaulatan pangan tidak cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur fisik. Harus ada perombakan sistemik dalam politik pertanian, di mana pengelolaan pangan bukan hanya soal proyek, tetapi soal keberpihakan kepada petani dan rakyat sebagai prioritas utama.

Penutup

Ketahanan pangan hanya dapat terwujud bila negara hadir sepenuhnya sebagai pelayan rakyat, dengan sistem yang terintegrasi, menyeluruh, dan berpihak pada kepentingan umat — bukan sekadar proyek infrastruktur semata. Selama sistem pengelolaan pangan dan pertanian masih berada dalam cengkraman kapitalisme sekuler, maka problem ketahanan pangan akan terus berulang.

Islam menawarkan solusi menyeluruh dan mendasar. Negara hadir sebagai pelayan dan penanggung jawab kebutuhan rakyat, termasuk kebutuhan pangan. Ketahanan pangan hanya bisa terwujud jika negara mengelola sumber daya alam dengan paradigma syariah  bahwa seluruh kekayaan bumi adalah amanah Allah untuk menyejahterakan manusia, bukan untuk dikomersialisasikan.

Dengan pengelolaan berbasis syariat, kekayaan bumi yang dikaruniakan Allah ini pasti cukup untuk seluruh manusia. Gratis, berkualitas, dan rakyat tidak perlu lagi merasakan kesulitan akses pangan, apalagi hanya bergantung pada proyek bendungan semata.

Berita Terkait

Membelah Bukit, TMMD Hadirkan ‘Merah Putih’ di Gunung Cut
Kepercayaan Publik yang Retak: Ketika Pemerintah Desa, Media, dan Masyarakat Gagal Bersinergi
Jenderal Hoegeng Iman Santoso: Polisi yang Harga Dirinya Lebih Mahal dari Emas
Koruptor Adalah Satwa Liar Yang Paling Dilindungi di Indonesia? Ketika Uang Menjadi Tuhan, Rakyat Hanya di Jadiakn Korbannya, Akankah Nasib NKRI Bisa Bertahan 2045?
Ketika Polisi Merangsek ke Ranah Sipil, Kemana Mahasiswa dan Pejuang Demokrasi
Antara Program MBG, Realisasi Gratis Poll dan Efisiensi Anggaran
LPG Langka, Bagaimana Peran Negara Dalam Menjamin Distribusi?
Kampus Lembaga Pendidikan ataukah Ladang Bisnis

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 01:08 WIB

Polsek Lima Puluh Lakukan Patroli Mobile di Perkebunan PT. SOCFINDO – Awasi Kegiatan Kelompok Tani Desa Simpang Gambus

Sabtu, 25 Juli 2026 - 23:41 WIB

Satlantas Polres Batu Bara Lakukan Patroli Blue Light di Jalinsum Exit Tol 50 – Kegiatan Aman Lancar

Sabtu, 25 Juli 2026 - 23:03 WIB

Satlantas Polres Batu Bara Lakukan Patroli di SPBU Jalinsum Desa Sukaraja – Kegiatan Aman Lancar

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:26 WIB

Satlantas Polres Batu Bara Lakukan Gatur Siang di Jalinsum Simpang Tanah Merah – Kegiatan Aman Lancar

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:24 WIB

Satlantas Polres Batu Bara lakukan patroli Blue Light di Jalinsum Indrapura – kegiatan aman lancar

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:44 WIB

Satlantas Polres Batu Bara berbagi sembako dalam Jumat Berkah – juga antisipasi kemacetan

Jumat, 24 Juli 2026 - 12:26 WIB

Sat Narkoba Polres Batu Bara bagikan sembako dan edukasi bahaya narkoba dalam Jumat Berkah

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:51 WIB

Penguatan Kerja Sama Polres dan Lapas Labuhan Ruku – Bahas Patroli Bersama dan Pertukaran Informasi

Berita Terbaru