Banjir di Gayo Lues Sebabkan Dua Warga Hanyut, Jembatan Gantung Putus Diterjang Arus

- Redaksi

Rabu, 26 November 2025 - 23:05 WIB

50206 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES | Curah hujan ekstrem yang tak kunjung reda selama dua hari telah memicu bencana banjir dan longsor di berbagai wilayah Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Dampak yang ditimbulkan tak hanya merendam permukiman dan merusak lahan pertanian, tetapi juga menyebabkan sejumlah infrastruktur penting ambruk, serta menelan korban jiwa. Hingga Rabu, 26 November 2025, puluhan desa di lebih dari sepuluh kecamatan terdampak bencana, sejumlah fasilitas umum lumpuh, dan proses evakuasi masih terus berlangsung di tengah cuaca yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Salah satu peristiwa tragis terjadi di Kecamatan Dabun Gelang. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak Rabu siang menyebabkan putusnya jembatan gantung di Dusun Pepalan. Jembatan yang sehari-hari digunakan masyarakat untuk menyeberang ke wilayah sekitar mendadak ambruk pada pukul 17.00 WIB, tepat ketika debit air sungai di bawahnya meningkat drastis. Dua warga dilaporkan terjatuh dan hanyut terseret derasnya arus air saat tengah melintasi jembatan tersebut dalam perjalanan pulang usai menderes getah pinus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Menurut warga setempat, tali utama jembatan tiba-tiba putus, kemungkinan besar karena tidak mampu menahan beban di tengah hantaman arus air yang besar. Derasnya aliran sungai seketika menghanyutkan kedua korban yang saat itu tengah berada di tengah bentang jembatan. Hingga laporan ini disusun, upaya pencarian masih terus dilakukan oleh tim gabungan bersama warga sekitar, namun prosesnya mengalami hambatan akibat buruknya cuaca dan terbatasnya jangkauan komunikasi.

Komunikasi di Dusun Pepalan dan sekitarnya memang tengah terganggu. Sejak hujan deras mengguyur wilayah Gayo Lues, sinyal telekomunikasi di sejumlah titik sangat melemah, menyulitkan penyaluran informasi serta koordinasi pencarian. Warga di sepanjang aliran sungai turut diminta waspada dan aktif memantau tanda-tanda munculnya korban hanyut atau material dari jembatan yang hilang terbawa arus.

Bencana banjir juga menyebabkan ratusan warga kehilangan tempat tinggal. Sejumlah pihak telah bergerak cepat untuk menyiapkan fasilitas darurat. Di Blangkejeren, Puskesmas Kota membuka ruang perlindungan sementara bagi warga yang terdampak paling parah. Petugas medis dan relawan ditempatkan untuk menangani kebutuhan darurat, termasuk bantuan makanan, air bersih, dan pemulihan kesehatan warga yang mengalami trauma.

Sebaran dampak banjir dan longsor tercatat cukup luas. Kecamatan-kecamatan yang terdampak meliputi Kecamatan Blangkejeren (desa Bacang, Kutalintang, Durin), Kecamatan Dabun Gelang (Desa Badak, Rebe, Rigeb), Kecamatan Kuta Panjang (Desa Rema Tue dan Ulun Tanoh), Kecamatan Pantan Cuaca (Desa Remukut, Tetingi, dan Seneren), serta Kecamatan Pining (Desa Lesten). Wilayah-wilayah lain yang juga dilaporkan mengalami kerusakan dan banjir adalah Kecamatan Tripe Jaya (Uyem Beriring, Rerebe, Pulo Gelime, Pasir), Kecamatan Rikit Gaib (Rempelam, Penomon, Tungel, Cane Toa), Kecamatan Putri Betung, Kecamatan Blang Pegayon, Kecamatan Blang Jerango, dan Kecamatan Terangun.

Khusus di Kecamatan Tripe Jaya, kerusakan infrastruktur tergolong paling parah. Jembatan rangka baja yang menjadi penghubung utama antarwilayah di atas Sungai Kuala Tripe putus total setelah dihantam derasnya aliran sungai yang meluap. Kondisi ini mengakibatkan akses menuju sejumlah kecamatan lain terputus. Tidak hanya itu, banjir juga merendam 80 persen wilayah permukiman Desa Uyem Beriring, di mana warga dilaporkan menyelamatkan diri ke dataran tinggi. Di sisi lain, SD Negeri 3 Tripe Jaya tak luput dari genangan air dengan ketinggian mencapai lebih dari tiga meter, memaksa penghentian aktivitas belajar mengajar sampai waktu yang belum ditentukan.

Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), mengerahkan tim gabungan dari TRC-PB, Pusdalops, serta personel TNI dan Polri untuk mempercepat proses evakuasi dan pendataan. Kepala BPBD Gayo Lues, Muhaimini, S.T., M.Ec.Dev, menjelaskan bahwa bencana ini merupakan akibat langsung dari curah hujan sangat tinggi yang membuat Daerah Aliran Sungai Tripe dan DAS Ulun Tanoh meluap. Luapan air masuk dengan cepat ke permukiman warga, lahan pertanian, hingga bangunan fasilitas umum.

Pendataan korban dan kerugian materil masih terus dilakukan. Belum ada angka pasti berapa warga yang terdampak maupun jumlah total kerusakan. Namun, laporan awal menunjukkan lebih dari 68 hektare persawahan di Desa Ulun Tanoh dan beberapa hektare lahan di Desa Badak telah terendam banjir, menyebabkan ancaman gagal panen dalam waktu dekat. Selain itu, longsoran kecil di beberapa titik rawan di Kecamatan Pantan Cuaca, Blang Jerango, dan Putri Betung telah menghalangi jalur evakuasi ke beberapa desa yang posisinya berada di lembah dan perbukitan.

Bupati Gayo Lues, Suhaidi, memimpin langsung koordinasi tanggap darurat dan menginstruksikan semua OPD terkait untuk segera bergerak membantu warga. Fokus saat ini adalah menstabilkan situasi, membuka jalur evakuasi yang terputus, memulihkan sistem komunikasi, dan membawa bantuan ke daerah-daerah yang belum terjangkau. “Kita semua harus bergerak cepat. Penanganan darurat lebih penting daripada administrasi. Keselamatan warga adalah prioritas,” tegas Bupati dalam arahannya.

Polres Gayo Lues turut menurunkan personel ke lokasi bencana untuk membantu proses evakuasi dan pengamanan lingkungan. Sementara itu, tim dari SAR dan relawan kemanusiaan juga didorong hadir di lapangan guna mendukung pencarian dua korban hanyut di Dusun Pepalan serta warga yang belum bisa mengakses bantuan.

Situasi cuaca yang belum stabil masih menjadi tantangan utama. Menurut pantauan terbaru dari BMKG, hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau tetap waspada, menjauhi aliran sungai yang deras, serta melapor ke posko desa atau aparat jika mendapati kondisi darurat.

Tragedi ambruknya jembatan di Dusun Pepalan menjadi peringatan nyata akan pentingnya perawatan dan pengawasan infrastruktur di sentra-sentra kawasan rawan bencana. Jembatan gantung dan jalur penghubung antardesa yang menjadi nadi bagi ribuan warga diketahui banyak yang sudah menua dan tidak tahan terhadap goncangan alam yang kini semakin sering terjadi. Pemerintah daerah diharapkan memberi perhatian lebih terhadap pembangunan infrastruktur yang adaptif bencana, termasuk memperluas sistem peringatan dini di kawasan rawan.

Hingga malam hari ini, sebagian desa masih terisolasi. Proses evakuasi dilakukan secara bertahap berdasarkan prioritas risiko dan kondisi medan. Tim BPBD dibantu TNI-Polri tetap bersiaga sepanjang malam, sementara pusat komando tanggap darurat diaktifkan penuh hingga status darurat bencana dicabut. Bantuan logistik, tenda darurat, air bersih, serta kebutuhan dasar lain terus dikirim ke desa-desa terdampak.

Bagi masyarakat yang belum tersentuh bantuan, pemerintah daerah menyatakan jalur distribusi akan terus dibuka begitu akses memungkinkan. Kejadian ini membawa pelajaran penting untuk meningkatkan kesigapan menghadapi bencana alam yang semakin tidak terduga. Harapan utama kini tertuju pada penanganan cepat dan terpadu untuk mengurangi dampak lebih lanjut, serta kembalinya kehidupan normal bagi masyarakat Gayo Lues dalam waktu dekat. (Abdiansyah)

Berita Terkait

Sudah Hampir Setahun Pasca Bencana BNPB Pusat Belum Bayarkan Sewa Alat Ke Pengusaha Lokal di Gayo Lues
Terpilih Secara Aklamasi, Deddy Yopiansyah Siap Kibarkan Panji Golkar Hingga Pelosok Kampung di Gayo Lues
Satgas TMMD Ke-130 dan Warga Membuat Sumur Bor untuk Masyarakat Desa Kampung Pepelah dan Kampung Gajah
Rehab MCK, Sasaran Tambahan TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Berlanjut
Jerit Sungai Kapuas: Pemodal PETI Sekadau Kebal Proses Hukum, Rakyat Tercekik Limbah Beracun
Terhitung Sejak Mei hingga Oktober 2026, Pemda Aceh Tenggara Dikabarkan Belum Bayar Gaji 15 Pengurus Baitul Mal
Jalan TMMD, Obat Luka Trauma Para Korban Bencana Alam
Demi Pesta Poya,! Empat Pemuda Spesialis Bobol Kedai Kopi di Kabanjahe Diringkus Team Cobra Satreskrim Polres Karo di Medan

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 17:04 WIB

Dapur Umum GRIB Jaya Medan Terus Berbagi, Hadirkan Makanan Bergizi Gratis bagi Masyarakat yang Membutuhkan

Rabu, 4 November 2026 - 11:24 WIB

​Kanwil Ditjenpas Sumut Siap Dukung Penuh Proses Penegakan Hukum Terkait Pegawai Lapas Medan yang Diamankan Polisi

Selasa, 3 November 2026 - 15:08 WIB

Evaluasi dan Penguatan Tugas dan Fungsi Pengamanan Rutan Tanjung Pura Ikuti Zoom Meeting bersama Direktur Pengamanan dan Intelijen Ditjenpas

Selasa, 3 November 2026 - 08:44 WIB

Bapas Kelas I Medan Lakukan Pengawasan Klien Pemasyarakatan dalam Program Ketahanan Pangan

Senin, 2 November 2026 - 21:07 WIB

IJTI Pengda Sumut Bakal Gelar Musda ke-VI, Tuti Alawiyah Lubis Maju Sebagai Calon Ketua Periode 2026/2029

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:59 WIB

Sinergi Cegah Banjir, Rutan Kabanjahe Bersama Kelurahan Kampung Dalam Gelar Kerja Bakti Pembersihan Drainase

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:32 WIB

Kunjungi Sentra Ketapang Rutan Tanjung Pura, Kakanwil Ditjenpas Sumut Puji Kemandirian Warga Binaan

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Lapas Sibolga Kebut Pembersihan Lingkungan dan Pembangunan Pagar SDN Hutanabolon 1 Pascabanjir

Berita Terbaru