INDONESIAPOST 24 | Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang kini dijuluki “Gubernur Konten”, kembali jadi sorotan. Julukan ini dilontarkan oleh Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, dalam rapat DPR pada 29 April 2025. Dengan nada berseloroh, Rudy menyapa Dedi yang dikenal aktif mengunggah aktivitasnya di media sosial.
Alih-alih tersinggung, Dedi justru menanggapi dengan santai dan mengungkapkan sisi positifnya. Ia menyebut, konten-konten yang dibuatnya mampu menekan biaya promosi pemerintah provinsi secara drastis—dari Rp 50 miliar menjadi Rp 3 miliar per tahun.
Dedi telah konsisten membuat konten sejak menjabat Bupati Purwakarta, lalu anggota DPR, hingga kini sebagai Gubernur Jawa Barat. Kanal YouTube-nya, “Kang Dedi Mulyadi Channel”, memiliki lebih dari 6,8 juta pengikut dan 4.200 video yang menampilkan kegiatannya menyambangi warga dan menyelesaikan persoalan di lapangan.
Namun, sejumlah pengamat menilai ada dua sisi dari aktivitas Dedi ini. Di satu sisi, dia dipandang responsif dan dekat dengan rakyat. Di sisi lain, aksi langsungnya di lapangan justru mengindikasikan lemahnya sistem birokrasi daerah.
Peneliti BRIN, Firman Noor, dan pakar komunikasi dari Unpad, Kunto Adi Wibowo, sepakat bahwa membangun citra lewat media sosial sah-sah saja bagi politisi. Tapi, Dedi diingatkan agar tetap menaruh fokus utama pada kerja sistemik yang berkelanjutan, bukan hanya solusi instan dan viral.
Masyarakat banyak yang mendukung, terutama karena mereka melihat hasil nyata dari kepemimpinannya. Namun, publik tetap menanti bukti kepemimpinan yang tak hanya kuat di layar, tapi juga kokoh di sistem.
Red * E.S *
































