Oleh: Januar Pagar M.Lubis
Bayangkan ada orang yang kalau dikasih amplop tebal, bukannya senyum manis, malah balikin sambil bilang, “Maaf, dompet saya cuma muat uang halal.” Nah, itu bukan sekadar cerita dongeng, tapi kisah nyata dari Jenderal Hoegeng. Sosok ini seperti “USB asli” di tengah tumpukan flashdisk bajakan tetap murni walau lingkungannya penuh godaan.
Kita bisa bilang integritas Hoegeng, bekerja seperti sistem imun moral. Sama seperti tubuh punya white blood cells buat melawan virus, nurani Hoegeng punya “sel-sel kejujuran” yang otomatis menolak suap dan tipu daya. Dalam psikologi, ini terkait dengan cognitive dissonance otak akan merasa nggak nyaman, kalau tindakan kita bertentangan sama nilai yang kita pegang. Bedanya, sebagian orang berusaha “menenangkan” rasa nggak nyaman itu dengan pembenaran, sementara Hoegeng memilih cara ekstrem: nggak melakukan pelanggaran sama sekali.
Kalau diibaratkan ke kehidupan sehari-hari, Hoegeng itu kayak orang yang main monopoli tapi nggak pernah curi uang dari bank. Padahal semua orang tahu, sekali curi, jalan menuju hotel warna merah jadi lebih cepat. Tapi dia sadar, menang curang itu cuma bikin papan permainan tampak indah, tapi hati jadi keropos.
Pesan yang dia bawa jelas: harga diri dan kejujuran itu seperti parfum mahal wangi dan bertahan lama. Sedangkan kekayaan kotor itu seperti parfum palsu di pasar malam: semerbak di awal, tapi bikin pusing setelahnya. Dan di zaman sekarang, di mana tawaran “cepat kaya” bertebaran di setiap sudut, kisah Hoegeng ini seperti papan rambu “Jalan Pintas Ditutup” yang bikin kita ingat kalau perjalanan lurus itu mungkin lebih lama, tapi sampai di tujuan dengan kepala tegak.
Jika direnungkan, hidup sederhana tapi terhormat itu ibarat tidur di kasur tipis tapi nyenyak, dibanding tidur di ranjang empuk tapi ditemani rasa takut dan was-was. Tuhan tidak pernah mengukur sukses dari seberapa tebal dompet kita, tapi seberapa bersih hati kita. Dan Jenderal Hoegeng Iman Santoso, sudah membuktikan, bahwa hidup dengan hati tenang adalah kemewahan sejati.
“Jangan pernah jual kejujuran demi kemewahan, karena saat uang habis, yang tersisa hanya rasa malu.”
Bukan seperti sekarang, banyak anggota Polri yang melakukan rekayasa kasus, rekayasa barang bukti, penyalahgunaan kewenangan, penyalahgunaan narkoba, dan pembelaan terhadap oknum yang diduga melakukan kejahatan, dan lain-lain. Khususnya yang berada di unit Reskrim, Narkoba, dan Polantas.
Penulis: Wartawan media online Indonesia Post.
































