Kabanjahe, (31 Juli 2026) Festival Bunga dan Buah atau FBB 2026 kembali menjadi perbincangan hangat di masyarakat Karo. Berdasarkan dokumentasi video yang viral di media sosial dari akun FB Rita Purnama Sari, serta aspirasi warga di postingan Mawar Ginting Soeka, penyelenggaraan FBB tahun ini menimbulkan sejumlah catatan kritis.
Dari cermin kegiatan FBB 2026, tampak evaluasi besar perlu dilakukan agar pesta rakyat ini benar-benar berpihak kepada rakyat.
DARI TEMUAN DI LAPANGAN BERDASARKAN DOKUMENTASI WARGA
1. KELUHAN PEDAGANG SOAL BIAYA TINGGI
Dalam video yang diunggah akun Rita Purnama Sari terlihat seorang pedagang protes dengan nada geram. Dalam postingan terkait disebutkan adanya informasi pungutan “tanah dijual Rp300.000 per meter”.
Pedagang juga mengeluhkan adanya retribusi sampah dan biaya lapak. Beredar informasi biaya lapak rata-rata mencapai Rp3.000.000 per lapak, dengan total lapak diduga lebih dari 500 lapak.
2. PERTANYAAN PUBLIK TENTANG ANGGARAN
Dalam postingan Mawar Ginting Soeka juga disoroti: “Kenapa jadi Ajang Cari Duit untuk sekelompok orang”. Warga mempertanyakan kemana larinya anggaran FBB Rp1 Miliar dari APBD jika di lapangan masih ada pungutan kepada pedagang.
Warga juga berharap agar hasil pungutan benar-benar masuk ke PAD, “Jangan nanti masuk kantong yang bocor”.
3. PETANI DAN UMKM TERPINGGIRKAN
Dari 398 komentar di KARO News dan postingan warga:
– Dampak ekonomi tidak dirasakan petani.
– Stand dipenuhi produk luar, bukan kuliner khas Karo.
– FBB belum menjadi ruang promosi bagi produk lokal.
4. SURAT RESMI PEMBEBAN
Telah beredar Surat dari Dinas DLH Kabupaten Karo dan Camat Berastagi yang meminta partisipasi masyarakat. Ini menambah keresahan di tengah telah adanya anggaran.
Sumber: Dokumentasi Warga & Akun FB Rita Purnama Sari
































